PANDEGLANG, –Di kaki Gunung Karang, tepatnya di Kampung Pasir Angin, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, berdiri sebuah masjid tua yang diyakini menjadi salah satu peninggalan Islam tertua di daerah tersebut. Bangunan bersejarah itu dikenal dengan nama Masjid Kuno Baitul Arsy.
Bagi masyarakat setempat, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Di balik bangunannya yang sederhana, tersimpan jejak panjang perjalanan dakwah Islam di Banten. Hingga kini, Masjid Baitul Arsy masih berdiri kokoh dan menjadi tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah maupun wisatawan.
Keunikan masjid ini terletak pada keaslian bangunannya yang masih terjaga. Sebagian besar material utama, seperti tiang penyangga dan pintu, masih menggunakan kayu tua yang diyakini telah berusia ratusan tahun.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, masjid tersebut sudah berdiri jauh sebelum kawasan Pasir Angin berkembang menjadi permukiman seperti sekarang. Namun, minimnya catatan sejarah membuat waktu pasti pendirian masjid maupun sosok ulama yang pertama kali membangunnya belum diketahui secara pasti.
Karena keterbatasan sumber sejarah itulah, masyarakat lebih mengenalnya sebagai Masjid Kuno Pasir Angin.
Dari berbagai sumber yang dihimpun, masjid ini diyakini telah berdiri sejak sebelum masa penjajahan Belanda. Pada masanya, masjid disebut menjadi tempat berkumpul para ulama, tokoh masyarakat, hingga pejuang yang berjuang mempertahankan tanah air sekaligus menyebarkan syiar Islam.

Keyakinan tersebut salah satunya dikaitkan dengan adanya bekas lubang peluru pada salah satu tiang kayu masjid yang masih terlihat hingga sekarang. Warga meyakini bekas itu merupakan jejak serangan tentara Belanda pada masa penjajahan.
Sebagian masyarakat juga mengaitkan keberadaan masjid dengan Syekh Karan, seorang ulama yang disebut hidup pada masa Kesultanan Banten. Meski demikian, keterkaitan tersebut masih sebatas cerita turun-temurun yang belum didukung bukti sejarah yang kuat.
Dari sisi arsitektur, Masjid Baitul Arsy memiliki bentuk khas masjid tradisional Nusantara. Bangunannya menghadap ke arah Gunung Karang yang menjulang megah di wilayah Pandeglang.
Masjid ini memiliki satu pintu utama di bagian depan dan dua pintu samping di sisi kiri serta kanan bangunan. Pada bagian atas terdapat kubah kayu yang menjadi ciri khas arsitektur tradisional. Tiang-tiang penyangga asli masih berdiri kokoh, bahkan umpak atau pondasi penyangga bangunan juga masih menggunakan material kayu.
Keaslian bangunan terlihat pula pada area mihrab tempat imam memimpin salat. Sejumlah benda peninggalan seperti bedug dan tongtong juga masih tersimpan dan terawat dengan baik.
Tak jauh dari bangunan utama, terdapat sumber mata air yang terus mengalir sepanjang tahun. Warga meyakini mata air tersebut tidak pernah kering meski musim kemarau berlangsung cukup panjang.
Selain menyimpan nilai sejarah, Masjid Baitul Arsy juga lekat dengan berbagai kisah yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu cerita yang paling dikenal adalah saat warga berupaya mengganti salah satu tiang kayu yang sudah tua.
Konon, setelah tiang lama diganti dengan kayu baru, keesokan harinya tiang tersebut kembali seperti semula. Kisah itu kemudian dipercaya sebagai pesan agar keaslian masjid tetap dijaga dan dipertahankan.
Sejak saat itu, masyarakat memilih melakukan perawatan tanpa mengubah bagian-bagian penting dari bangunan bersejarah tersebut.
Anggota DPRD Provinsi Banten dari Daerah Pemilihan Pandeglang, Hadi Mawardi, mengaku bangga karena keberadaan Masjid Baitul Arsy masih terjaga hingga sekarang.
“Keberadaan masjid ini harus terus dijaga dan dilestarikan karena merupakan bagian dari peninggalan sejarah Islam. Ini adalah kekayaan Pandeglang yang menyimpan jejak peradaban Islam serta nilai-nilai religius yang penting diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Hadi.
Masjid Baitul Arsy kini menjadi lebih dari sekadar bangunan tua. Keberadaannya menjadi saksi perjalanan dakwah Islam di Banten sekaligus pengingat pentingnya menjaga warisan sejarah, budaya, dan nilai-nilai keagamaan untuk generasi masa depan. (Red)


