• LEBAK, – Ancaman tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Lebak, Banten, masih menjadi pekerjaan rumah serius. Hingga Agustus 2026, sebanyak 3.592 kasus TBC ditemukan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak pun terus menggeber pelacakan kasus atau tracing, pemeriksaan kontak erat, hingga pengawasan pengobatan pasien sampai ke tingkat desa.

Langkah ini dilakukan untuk memburu kasus baru sekaligus memutus mata rantai penularan, terutama di lingkungan keluarga dan permukiman warga.

Berdasarkan data Dinkes Lebak, ribuan kasus tersebut ditemukan dari pemeriksaan terhadap 18.951 orang terduga TBC hingga 23 Agustus 2026. Angka itu setara dengan 59,9 persen dari estimasi 5.999 kasus TBC di Kabupaten Lebak.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Lebak, Rochmat Pudjiharjo, mengatakan penanganan TBC dilakukan melalui penemuan kasus secara aktif, investigasi kontak, serta pemberian terapi pencegahan bagi warga yang berisiko tertular.

“Untuk yang kontak serumah dengan penderita TBC yang hasil pemeriksaan TBC negatif diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Capaiannya saat ini 2.579 kontak serumah yang diberikan TPT,” kata Rochmat.

Menurutnya, pelacakan kontak erat menjadi langkah penting untuk mendeteksi penularan sejak dini. Dengan begitu, warga yang terinfeksi bisa segera mendapatkan penanganan sebelum penyakit menyebar lebih luas.

Tak hanya mengandalkan pelacakan konvensional, Kementerian Kesehatan bersama Pemkab Lebak juga mengintegrasikan penanganan TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

BACA JUGA :  Ditengah Efesien, Pemprov Banten akan Lakukan Pergeseran Anggaran 2026

Program ini menyasar kontak serumah dan kontak erat pasien TBC yang sebelumnya belum berhasil ditelusuri. Pelaksanaannya berlangsung di 302 lokasi di Kabupaten Lebak, mulai 10 Agustus hingga 24 September 2026.

Selain memperluas penemuan kasus, program tersebut diharapkan mempermudah akses pemeriksaan kesehatan sekaligus menekan stigma dan diskriminasi terhadap pasien TBC.

Memasuki Oktober 2026, perburuan kasus terus berlanjut. Sejumlah Puskesmas turun langsung ke lapangan untuk menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.

Tim medis dari Puskesmas Rawat Inap Cirinten dan Puskesmas Panggarangan, misalnya, melakukan pelacakan TBC yang terintegrasi dengan CKG di sejumlah wilayah, termasuk Desa Datarcae.

Kegiatan tersebut difokuskan pada penelusuran kontak erat pasien TBC aktif. Warga yang diduga terinfeksi, termasuk mereka yang belum menyadari kondisi kesehatannya, didorong segera menjalani pemeriksaan.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta tidak menyepelekan gejala yang mengarah pada TBC.

Dokter Spesialis Patologi Klinik sekaligus Penanggung Jawab Laboratorium RS Kartini, dr. Agus Sunardi, Sp.PK, mengingatkan batuk berkepanjangan selama dua minggu atau lebih harus diwaspadai.

Gejala TBC lainnya antara lain batuk berdahak, batuk kering, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam ringan, dan keringat malam. Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami batuk berdarah, nyeri dada, hingga sesak napas.

BACA JUGA :  Panen Raya PS-08 Pecah di Pandeglang, Banten Siap Jadi Penyangga Pangan Nasional

“Gejala-gejala tersebut tidak otomatis berarti TBC karena bisa juga disebabkan penyakit lain. Sebaliknya, orang yang terkena TBC juga bisa mengalami gejala ringan atau bahkan tidak bergejala,” jelas Agus.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mendiagnosis penyakit sendiri hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi TBC atau tidak.

Salah satu metode pemeriksaan yang digunakan adalah Tes Cepat Molekuler (TCM) melalui sampel dahak. Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan penilaian dokter.

Agus menyebut pemeriksaan TCM sudah tersedia di RSUD dr. Adjidarmo dan sejumlah Puskesmas di Kabupaten Lebak. Warga yang mengalami gejala mencurigakan diminta segera mendatangi Puskesmas atau berkonsultasi dengan dokter.

“Jika sudah terdiagnosis TBC, pasien diharapkan mengonsumsi obat antituberkulosis (OAT) secara teratur sesuai petunjuk tenaga kesehatan sampai pengobatan dinyatakan selesai,” ujarnya.

Menurut Agus, kedisiplinan menjalani pengobatan menjadi kunci penting dalam penanggulangan TBC. Pasien tidak boleh menghentikan konsumsi obat secara sepihak karena berisiko menyebabkan kegagalan pengobatan dan meningkatkan potensi penularan.

Selain disiplin berobat, pencegahan penularan di rumah juga harus diperhatikan. Pasien dianjurkan menggunakan masker, terutama selama masih berpotensi menularkan penyakit, serta memastikan sirkulasi udara di dalam rumah berjalan baik dengan membuka jendela.

BACA JUGA :  Aset pompa banjir milik Pemkot Tangerang dicuri di Cimone Jaya. Kerugian capai Rp37 juta, pengendalian banjir di Karawaci terganggu.

Warga juga diminta menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, tidak meludah sembarangan, serta memeriksakan anggota keluarga yang tinggal serumah apabila berisiko tertular.

Menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan menghindari rokok juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Sebelumnya, sebanyak 1.254 pasien yang teridentifikasi pada triwulan pertama 2026 telah dikoordinasikan untuk menjalani pengobatan intensif selama enam bulan. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen penanganan agar pasien mendapatkan terapi hingga tuntas.

Meski pelacakan terus digencarkan, hingga akhir Oktober 2026 belum tersedia angka kumulatif terbaru yang dipublikasikan untuk menggambarkan total kasus TBC di Lebak sepanjang Januari hingga Oktober. Dengan demikian, angka 3.592 kasus masih mengacu pada data Dinkes Lebak hingga Agustus 2026.

Dinkes Lebak mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk berkepanjangan selama dua minggu atau lebih, terlebih jika disertai gejala lain yang mengarah pada TBC.

Pemeriksaan dahak dan pengobatan TBC tersedia secara gratis di Puskesmas Kabupaten Lebak sesuai ketentuan layanan kesehatan.

Dengan memperkuat pelacakan kasus, pemeriksaan kontak erat, pendampingan pasien, dan kepatuhan menjalani pengobatan, Dinkes Lebak berharap penularan TBC dapat ditekan. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan masyarakat agar kasus bisa ditemukan lebih cepat dan rantai penularan segera diputus. (Red)