JAKARTA, – Ancaman gagal panen mengintai petani saat Indonesia beralih dari kemarau panjang akibat El Nino ke musim hujan berintensitas tinggi pada akhir 2026. Mengantisipasi risiko tersebut, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menyiapkan strategi untuk menjaga produksi dan pasokan pangan nasional.
Langkah itu disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan KADIN Indonesia, H. Mulyadi Jayabaya, saat menemui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Mulyadi melaporkan kesiapan dunia usaha untuk mengamankan produksi pangan sekaligus melindungi petani dari ancaman banjir, gagal panen, hingga gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem.
“Kami melaporkan kepada Pak Menko terkait langkah KADIN dalam mengamankan produksi pangan di saat musim kemarau panjang akibat El Nino dan akan memasuki musim penghujan pada akhir tahun,” ujar Mulyadi.
Menurut tokoh asal Lebak, Banten, ini, sektor pertanian baru saja menghadapi tekanan akibat kemarau panjang. Dampaknya dirasakan di sejumlah daerah sentra produksi padi, jagung, dan hortikultura. Selain mengancam produktivitas, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya produksi petani.
Kini, tantangan baru sudah menanti. Jika tidak diantisipasi sejak dini, hujan berintensitas tinggi berpotensi memicu banjir, merusak tanaman, dan membuat petani kembali menanggung kerugian.
“Jangan sampai kita sudah selamat dari kekeringan El Nino, tapi justru tumbang saat musim hujan karena banjir dan gagal panen. Petani harus kita lindungi,” tegasnya.
Untuk mencegah ancaman tersebut, KADIN menyiapkan tiga strategi utama.
Pertama, memperkuat penyerapan hasil panen. KADIN mendorong keterlibatan pengusaha, penggilingan padi, distributor, hingga ritel modern untuk memperkuat rantai pasok pangan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga harga jual hasil panen tetap wajar dan mencegah petani merugi, terutama saat panen raya.
Kedua, menjamin pasokan pupuk, benih unggul, dan permodalan. KADIN mendorong kolaborasi dengan BUMN pupuk, perbankan, serta perusahaan agribisnis agar kebutuhan sarana produksi pertanian terpenuhi. Benih yang sesuai dengan kondisi lahan, termasuk lahan yang berpotensi tergenang, juga menjadi perhatian.
Ketiga, memperkuat mitigasi logistik dan pemanfaatan teknologi. Fasilitas penyimpanan, sistem resi gudang, serta informasi cuaca berbasis digital perlu dimaksimalkan. Dengan begitu, petani bisa menentukan waktu tanam dan panen secara lebih tepat, sementara risiko kerusakan dan hambatan distribusi dapat ditekan.
Mulyadi menegaskan, menjaga ketahanan pangan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dunia usaha juga harus turun tangan, mulai dari memastikan ketersediaan sarana produksi hingga membantu menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen.
Ia menyebut Airlangga menyambut baik laporan tersebut. Menurutnya, sinergi melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, pengusaha, petani, akademisi, dan media menjadi kunci menghadapi tantangan pangan.
Bagi KADIN, persoalan pangan bukan semata-mata soal produksi. Kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan kesejahteraan petani juga harus menjadi perhatian.
Mulyadi berharap langkah antisipasi yang disiapkan dapat mencegah penurunan produksi sekaligus menekan potensi gejolak harga pangan menjelang akhir tahun.
“Kami di KADIN ingin memastikan stok pangan aman, harga stabil, dan petani tetap sejahtera. Produksi tidak boleh turun hanya karena cuaca,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjamin ketersediaan pupuk dan benih unggul hingga tingkat provinsi serta kabupaten/kota, terutama menjelang musim tanam.
“Memasuki musim tanam, ketersediaan pupuk dan bibit unggul harus tersedia di seluruh provinsi, kabupaten/kota di seluruh Indonesia,” tandasnya. (Red)


