JAKARTA, – Rampak Bedug khas Pandeglang, Banten, menggema di panggung nasional. Wayang Nganjor Indonesia membawa kesenian tradisional tersebut ke panggung IDP Fest 2026 yang berlangsung di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Tak sekadar tampil, Rampak Bedug dikemas dalam sentuhan musik kontemporer dan berkolaborasi dengan IDP Orchestra. Sajian tersebut diorkestrasi musikus sekaligus komposer ternama, Ekki Soekarno.

Kolaborasi ini semakin semarak dengan kehadiran Yuyun Arfah. Vokalnya yang kuat dan khas memperkaya warna musikal pertunjukan, sekaligus memberikan sentuhan emosional dan dramatis dalam perpaduan Rampak Bedug dengan orkestrasi modern.

Rampak Bedug yang selama ini lekat dengan identitas budaya Pandeglang dan Banten, kali ini tampil dengan wajah berbeda. Tradisi dan musik kontemporer berpadu menjadi sebuah komposisi yang dinamis dan mampu menjangkau selera penonton masa kini.

Penggagas Wayang Nganjor Indonesia, Tirta Nugraha Pratama, menegaskan keikutsertaan pihaknya dalam IDP Fest 2026 bukan sekadar memenuhi undangan tampil. Ada misi lebih besar, yakni membawa identitas budaya daerah agar semakin dikenal di panggung nasional.

BACA JUGA :  Bappeda se-Banten Samakan Persepsi Program Prioritas 2027

“Keikutsertaan Wayang Nganjor Indonesia dalam IDP Fest 2026 bukan sekadar kesempatan untuk tampil di panggung nasional. Ini bagian dari semangat nganjor: berkunjung, berjumpa, dan bernegosiasi secara kreatif dengan beragam bentuk serta bahasa artistik,” ujar Tirta kepada wartawan, Sabtu (5/9/2026) usai acara tersebut.

IMG-20260905-WA0048-300x225 Wayang Nganjor Indonesia Bawa Rampak Bedug Pandeglang ke Panggung Nasional
Dalang Wayang Nganjor bersama tim rampak bedug dari Pandeglang saat pentas di TMII Jakarta.

Menurutnya, Rampak Bedug sengaja ditempatkan bukan sebagai pelengkap pertunjukan. Kesenian tersebut menjadi identitas Pandeglang-Banten yang memiliki kekuatan untuk berdialog dengan musik kontemporer.

“Rampak Bedug kami hadirkan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai identitas Pandeglang-Banten yang memiliki kekuatan untuk berdialog dengan musik kontemporer,” tegasnya.

Tirta menilai kolaborasi bersama IDP Orchestra menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak harus kehilangan jati diri ketika masuk ke panggung modern.

BACA JUGA :  Mantan Aktivis Perempuan Buka Resto dan Kafe Saung Kita di Pandeglang

“Tradisi akan tetap hidup ketika diberikan ruang untuk berkembang. Pertemuan antara Rampak Bedug, orkestrasi Ekki Soekarno, serta kekuatan vokal Yuyun Arfah membentuk dialog artistik yang luar biasa,” katanya.

Ia berharap kolaborasi tersebut bisa membuka kesempatan lebih luas bagi seniman daerah untuk terus berkarya dan membawa kekayaan budaya lokal ke tingkat nasional.

“Kami berharap keterlibatan ini dapat membuka jalan yang lebih luas bagi para seniman daerah untuk menjadikan kebudayaan sebagai sumber penciptaan yang hidup, relevan, dan membanggakan,” lanjut Tirta.

Bukan hanya tampil di panggung, Wayang Nganjor Indonesia juga memberikan edukasi mengenai Rampak Bedug melalui sesi Impresi Perkusi Indonesia.

Dalam sesi tersebut, masyarakat dan pelaku seni dari berbagai daerah diajak mengenal lebih jauh identitas, nilai, karakter, serta potensi pengembangan Rampak Bedug sebagai seni perkusi tradisional Banten.

“Kami tidak hanya hadir untuk mempertunjukkan Rampak Bedug, tetapi juga berbagi pengetahuan mengenai nilai budaya yang hidup di dalamnya. Bagi kami, panggung pertunjukan dan ruang edukasi merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam upaya merawat dan mengembangkan kebudayaan,” tutur Tirta.

BACA JUGA :  Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch Bangun Dukung Seruan Presiden Prabowo di KTT D-8 untuk Kemerdekaan Palestina

Kehadiran Wayang Nganjor Indonesia di IDP Fest 2026 sekaligus menunjukkan bahwa seni tradisi daerah punya peluang besar untuk berkembang tanpa harus tercerabut dari akar budayanya.

Rampak Bedug Pandeglang membuktikan hal itu. Dari kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah, kini mampu berdialog dengan orkestrasi modern dan tampil di salah satu panggung pertunjukan bergengsi di Indonesia.

Bagi masyarakat Pandeglang dan Banten, penampilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Identitas budaya daerah berhasil dibawa ke panggung nasional dalam kemasan yang segar, kreatif, dan tetap berakar pada tradisi.

Wayang Nganjor Indonesia pun menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan kesenian tradisional melalui penciptaan, kolaborasi, dan edukasi. Dengan cara itu, budaya daerah tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber kreativitas untuk masa depan. (Red)