SERANG, – Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Banten Bersatu menggelar aksi refleksi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten, pada Senin 4 Mei 2026.

Dalam aksinya massa BEM Banten Bersatu menyoroti terkait tingginya angka putus sekolah di Provinsi Banten.

Koordinator Lapangan Aksi BEM Banten Bersatu, Suci Indah Lestari mengatakan, bahwa saat ini angka putus sekolah di Provinsi Banten tercatat masih sangat tinggi yakni diangka 13.684 orang.

“Berdasarkan data, angka putus sekolah di Provinsi Banten masih tergolong tinggi. Pada jenjang SMA/SMK, tercatat sekitar 13.684 orang mengalami putus sekolah,” kata Suci.

Menurut Suci, kondisi ini menunjukan bahwa akses terhadap pendidikan di Provinsi Banten belum sepenuhnya merata dan inklusif.

BACA JUGA :  Brigjen Hengki Resmi Jadi Kapolda Banten, Siap Lanjutkan Program Prioritas Irjen Suyudi 

“Ketimpangan ini semakin diperkuat oleh disparitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta antara kelompok ekonomi mampu dan tidak mampu,” ungkapnya.

Suci juga menyampaikan, saat ini rata-rata lama sekolah masyarakat Banten masih berada di kisaran 9,16–9,23 tahun. Tentunya hal ini mengindikasikan bahw masih banyak pelajar yang tidak menyelesaikan pendidikan hingga jenjang menengah atas.

“Aksi ini merupakan bentuk kegeraman dan keprihatinan terhadap sistem pemerintahan, khususnya di bidang pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat,” ujarnya.

“Aksi ini menjadi ruang penyampaian aspirasi sekaligus dorongan untuk menghadirkan kebijakan yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” sambungnya.

Lebih lanjut Suci berharap, kedepan Pemerintah Provinsi Banten bisa mewujudkan pendidikan yang merata, ilmiah, demokratis dan inklusif.

BACA JUGA :  Pandeglang Disebut Surga Wisata, Kontribusi ke PAD Dinilai Belum Optimal

“Pemprov harus bisa menyelesaikan persoalan ini, serta mampuh mewujudkan pendidikan yang merata dan inklusif,” harapnya. (Aldo Marantika)