BANTEN, – Produk olahan pangan khas Provinsi Banten dan hasil Ekonomi kreatif (Ekraf) dari UMKM, Perikanan, Ketahanan Pangan termasuk bahan informasi destinasi wisata dan investasi di wilayah banten turut dipamerkan dalam Rapat Kerja (Raker) Forum Kerja Daerah (FKD) Mitra Praja Utama (MPU) Tahun 2026 di Semarang, Selasa (12/6).
Raker tersebut membahas penguatan konektivitas antarwilayah dalam mendukung swasembada pangan dan ketahanan energi nasional. Kegiatan dibuka langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir M Daud mengatakan, sejumlah produk hasil pertanian dari pelaku UMKM Banten ditampilkan sebagai bagian promosi potensi pangan daerah.
“Forum MPU ini menjadi wadah kolaborasi antarprovinsi dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan penguatan ketahanan pangan serta energi. Masing-masing daerah saling melengkapi sesuai potensi yang dimiliki,” ujar Nasir kepada wartawan, Selasa (12/6/2026) melalui telepon selulernya.
Delegasi Banten dalam forum tersebut dipimpin Asisten Daerah (Asda) I dan diikuti sejumlah kepala OPD, di antaranya Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pariwisata, DPMPTSP, Dinas Koperasi dan UMKM, Diskomdigi, Dinas ESDM, BPBD, Satpol PP, Bappeda, Dinas Sosial, DKP hingga perwakilan Bank Banten.

Selain Banten, forum itu juga dihadiri delegasi dari 10 provinsi lainnya, yakni Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, NTB dan NTT.
Nasir menegaskan, hasil rekomendasi yang dihasilkan dalam forum MPU harus menjadi program aksi nyata bagi seluruh gubernur anggota MPU.
“Komitmen forum ini harus efektif dan dijalankan sesuai rekomendasi yang telah disepakati bersama,” katanya.
Menurut Nasir, Banten optimistis mampu meningkatkan kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional. Pada 2025, produksi gabah kering giling (GKG) Banten mencapai 1,8 juta ton dan menempatkan Banten sebagai kontributor pangan nasional terbesar kedelapan.
“Semoga tahun 2026 produksi padi Banten bisa meningkat di atas 2 juta ton,” ujarnya.

Ia menjelaskan, target tersebut dapat dicapai melalui optimalisasi lahan sawah basah maupun lahan kering, serta pemanfaatan sarana dan prasarana pertanian seperti pipanisasi, pompanisasi dan alat mesin pertanian (alsintan).
“Dengan peningkatan indeks pertanaman, produksi pangan diharapkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya,” ucapnya.
Nasir juga berharap ke depan Banten dapat menyiapkan sarana pasar regional untuk memperkuat peran strategis daerah sebagai penghubung ibu kota.
“Kami optimistis Banten mampu menjadi daerah penyangga pangan nasional sekaligus pusat distribusi strategis,” pungkasnya. (Red)

