PANDEGLANG, – Perwakilan warga yang pro dan kontra soal penutupan pendakian Gunung Pulosari mengikuti musyawarah yang digelar di ruang Camat Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Rabu (10/12/2025). Pertemuan berlangsung dengan pengamanan ketat dari TNI-Polri.

Hadir dalam musyawarah tersebut Camat Mandalawangi Yani SN, SKM, Kapolsek Mandalawangi AKP Darwin, Danramil Kapten Inf. Supriatin, tokoh masyarakat H Edi dan H Mumin, Kades Pari Yadi Suprito, Kades Cikondang Agus Apip, perwakilan KRPH Mandalawangi, LMDH, serta pengelola jalur pendakian Gunung Pulosari.

Camat Mandalawangi Yani SN mengatakan pemerintah kecamatan memfasilitasi pertemuan tersebut untuk menyamakan persepsi kedua belah pihak.

“Musyawarah terkait jalur pendakian Gunung Pulosari yang belakangan ramai dipersoalkan sudah dilaksanakan,” kata Yani usai pertemuan.

BACA JUGA :  Jazuli Nahkodai PBMA, Siap Gas Cetak SDM Unggul

Ia menjelaskan, hasil kesepakatan musyawarah menetapkan bahwa pendakian Gunung Pulosari ditutup sementara hingga akhir 2025, sesuai keputusan Perhutani Kabupaten Pandeglang.

“Kelanjutan pendakian menunggu keputusan Pemkab Pandeglang dan Dinas LHK Provinsi Banten,” ujarnya sambil menunjukkan berita acara hasil musyawarah.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah personel Polres Pandeglang, Polsek, dan TNI turut melakukan pengamanan selama musyawarah berlangsung.

“Alhamdulillah musyawarah berjalan aman, lancar, dan kondusif,” ujar Kasat Intel Polres Pandeglang AKP Sely Eldiansyah.

Sebelumnya, beredar video dan pernyataan puluhan warga dari tiga desa di Kecamatan Pulosari—yakni Desa Cikoneng, Pandat, dan Cilentung—yang menuntut pendakian Gunung Pulosari ditutup. Pada Selasa (14/10/2025) malam, sekitar pukul 22.00 WIB, warga berkumpul dan menyatakan penolakan terhadap aktivitas ekowisata ke Gunung Pulosari secara permanen. Penolakan itu dipicu isu adanya perilaku tidak senonoh yang dilakukan sejumlah pendaki di kawasan gunung. (Red)

BACA JUGA :  Gubernur Andra Soni Resmikan Kantor Pusat Bank Banten di Acara HUT Ke-9