Supreme Leader atau Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Warta ini dikonfirmasi langsung oleh media pemerintah Iran yang menyebut Khamenei tewas di kantornya.

Gempuran AS-Israel ke kompleks kediaman pemimpin tertinggi Iran itu juga merenggut nyawa keluarga Khamenei. Diketahui, putri, cucu, menantu perempuan, dan menantu laki-laki Ali Khamenei turut menjadi korban serangan itu, lapor Reuters.

Nama Ali Khamenei kembali menjadi sorotan dalam dinamika politik dan keamanan kawasan Timur Tengah. Sosok yang telah memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade ini dikenal sebagai figur sentral dalam sistem politik dan keagamaan negara tersebut.

Lahir dari Keluarga Ulama Sederhana

Sayyid Ali Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad, Provinsi Khurasan, Iran. Ia tumbuh dalam keluarga religius dengan kondisi ekonomi terbatas. Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, merupakan seorang ulama yang disegani di lingkungannya.

BACA JUGA :  Airspace Timur Tengah Ditutup, Sejumlah Penerbangan dari Bandara Soetta Batal dan Tertunda

Sejak usia dini, Khamenei telah menempuh pendidikan agama. Pada usia empat tahun, ia mulai belajar di maktab, sekolah dasar tradisional berbasis keislaman. Pendidikan agamanya berlanjut di berbagai lembaga keilmuan Islam, termasuk seminari di Najaf, Irak, pada akhir 1950-an.

Di Najaf, ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka. Kemudian pada 1959, ia pindah ke Qum dan belajar kepada Ruhollah Khomeini, tokoh yang kelak memimpin Revolusi Islam Iran 1979 dan menjadi Pemimpin Tertinggi pertama Iran.

Aktif di Gerakan Revolusi

Memasuki dekade 1960-an, Khamenei terlibat aktif dalam gerakan menentang pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia beberapa kali ditangkap oleh aparat keamanan SAVAK akibat aktivitas politik dan ceramah-ceramahnya yang dinilai mengkritik rezim.

BACA JUGA :  Bupati Dewi Setiani Pimpinan Upacara Hari Kesakitan Pancasila, Sampaikan Hal Penting Ini?

Pada periode 1970-an, ia semakin dikenal di kalangan mahasiswa dan kelompok religius karena ceramahnya yang membahas Al-Quran serta gagasan politik Islam. Penangkapan dan pengasingan tidak menghentikan kiprahnya hingga akhirnya Revolusi Islam 1979 menggulingkan pemerintahan Shah.

Setelah revolusi berhasil, Khamenei masuk dalam lingkaran elite pemerintahan baru. Ia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, anggota parlemen, hingga Menteri Pertahanan.

Dari Presiden hingga Pemimpin Tertinggi

Pada 1981, Khamenei terpilih sebagai Presiden Iran dan menjabat hingga 1989. Masa pemerintahannya berlangsung di tengah situasi pasca-revolusi dan perang Iran-Irak yang penuh tantangan.

Tahun 1989 menjadi titik balik penting dalam karier politiknya. Setelah wafatnya Ayatollah Khomeini, Majelis Ahli memilih Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Sejak saat itu, ia memegang otoritas tertinggi atas struktur politik, militer, dan peradilan negara.

BACA JUGA :  Istri Gubernur Banten Buka Rakor Kelembagaan PAUD, Jalin Sinergitas Lintas Sektor

Sebagai Supreme Leader, Khamenei memiliki kewenangan luas, termasuk mengangkat pejabat tinggi militer dan kehakiman, serta menentukan arah kebijakan strategis nasional. Dalam kebijakan luar negeri, ia dikenal bersikap tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel, serta mendukung penguatan posisi Iran di kawasan Timur Tengah.

Figur Sentral Politik Iran Modern

Selama lebih dari tiga dekade memimpin, Khamenei menghadapi berbagai dinamika, mulai dari sanksi internasional, tekanan diplomatik, hingga gelombang protes domestik. Namun, dukungan dari institusi negara dan struktur keamanan membuat posisinya tetap kuat dalam sistem politik Iran.

Sebagai tokoh kunci dalam sejarah Republik Islam Iran modern, Ali Khamenei tetap menjadi figur yang berpengaruh dalam menentukan arah kebijakan domestik maupun geopolitik negara tersebut. (Red)