BANTEN, – Prestasi putra daerah di bidang akademik dan kesenian dinilai belum mendapatkan apresiasi yang layak dari pemerintah daerah. Perhatian terhadap capaian di sektor tersebut masih kalah dibandingkan dengan prestasi di bidang olahraga dan keagamaan.
Prestasi akademik yang dimaksud antara lain olimpiade sains seperti Matematika, Bahasa Indonesia, serta cabang kesenian. Padahal, ajang-ajang tersebut memiliki bobot prestasi yang setara dengan kompetisi non-akademik lainnya.
Sebagai perbandingan, perhatian pemerintah terhadap ajang seperti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) dinilai relatif lebih besar. Kondisi ini berdampak pada rendahnya minat siswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang sains dan seni akademik, yang cenderung kalah diminati dibandingkan olahraga.
“Mungkin laporan dari kepala dinas kurang menohok kepada para kepala daerah. Padahal prestasi akademik nilainya sama dengan prestasi olahraga. Ini harus menjadi perhatian serius, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” ungkap Luqman, pemerhati pendidikan di Banten kepada media, Sabtu (17/1/2026).
Ia mencontohkan seorang siswi bernama Ibanes Dwi Wahyudi, yang berprestasi di bidang debat Bahasa Indonesia dan sains. Ibanes pernah mewakili Provinsi Banten pada perlombaan tingkat nasional, namun dinilai tidak mendapatkan perhatian dan apresiasi yang memadai dari pemerintah daerah.
“Saat ini yang bersangkutan melanjutkan pendidikan di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, melalui jalur prestasi,” kata Luqman.
Ia berharap, pada kepemimpinan Andra–Dimyati, pemerintah dapat memberikan apresiasi yang lebih adil dan merata kepada seluruh siswa berprestasi tanpa membedakan bidang akademik maupun non-akademik.
“Mudah-mudahan ke depan seluruh prestasi siswa, di semua bidang, mendapatkan penghargaan yang setimpal karena mereka telah mengharumkan nama daerah,” ujarnya. (Red)

