SERANG, – Jumlah penyuluh pertanian dari unsur Aparatur Sipil Negara (ASN) di Provinsi Banten terus berkurang. Kondisi ini terjadi akibat sebagian penyuluh beralih ke jabatan fungsional lain.

Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Erry Yanuar, mengatakan jumlah penyuluh pertanian ASN yang sebelumnya mencapai 636 orang kini tersisa 535 orang.

“Jumlah penyuluh pertanian ASN di Provinsi Banten sebelumnya ada 636 orang. Namun, saat ini hanya ada 535 orang,” kata Erry saat memimpin apel pagi di Kantor Distan Banten, Selasa (2/6/2026).

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Distan Banten menetapkan dua fokus utama program kerja. Fokus pertama adalah menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2025 tentang penguatan peran penyuluh pertanian swadaya.

BACA JUGA :  Diplomat 12 Negara Keliling Banten, Promosikan Wisata Pulau Lima

“Yang menjadi fokus utama kita ada dua. Pertama, menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2025 tentang penguatan peran penyuluh pertanian swadaya,” ujarnya.

Menurut Erry, langkah tersebut diperlukan untuk mengimbangi berkurangnya jumlah penyuluh ASN di lapangan.

Saat ini, kegiatan penyuluhan pertanian juga didukung oleh 690 penyuluh pertanian swadaya yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Banten. Keberadaan mereka dinilai sangat membantu dalam mendampingi petani dan kelompok tani.

Meski demikian, jumlah tersebut masih belum mampu menjangkau seluruh desa di Provinsi Banten.

“Ke depan akan dilakukan optimalisasi kapasitas penyuluh swadaya melalui pembinaan dan bimbingan teknis secara berkelanjutan,” katanya.

Selain itu, para penyuluh swadaya akan mengikuti pelatihan penyuluh dasar selama dua minggu di Kabupaten Cianjur yang kemudian dilanjutkan dengan proses sertifikasi.

BACA JUGA :  Warga Banten Diminta Santai, BBM Dipastikan Tak Naik

“Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas penyuluhan,” jelasnya.

Fokus kedua yang akan dijalankan Distan Banten adalah pengembangan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) sebagai pusat kegiatan pelatihan pertanian.

“Saat ini kami memprioritaskan penguatan peran dan fungsi P4S sebagai pusat pembelajaran, pelatihan, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia pertanian,” ungkap Erry.

Ia menambahkan, setelah P4S berkembang secara optimal, kegiatan pelatihan akan diperluas dengan melibatkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di tingkat kecamatan.

“Setelah P4S berkembang secara optimal, kegiatan pelatihan akan kembali diperluas dengan melibatkan BPP sebagai pusat layanan penyuluhan tingkat kecamatan,” pungkasnya. (Aldo)