SERANG, –Gubernur Banten Andra Soni mengakui proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) menjadi salah satu momen paling berat bagi para kepala sekolah setiap tahunnya. Selain harus menghadapi tingginya jumlah pendaftar, mereka juga kerap mendapat tekanan dan intervensi dari berbagai pihak.
Hal itu disampaikan Andra saat menghadiri pertemuan bersama para kepala SMA, SMK, dan SKH se-Banten di Pendopo Gubernur Banten, Kota Serang, Kamis (6/6/2026).
Menurut Andra, keterbatasan daya tampung sekolah negeri membuat para kepala sekolah berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi mereka harus menjalankan aturan, sementara di sisi lain jumlah calon siswa yang mendaftar jauh melebihi kuota yang tersedia.
“Ibu bisa bayangkan bagaimana pusingnya kepala sekolah. Yang mendaftar 2.000 orang, sementara kuotanya hanya 200 sekian,” ujar Andra.
Ia menilai kondisi tersebut akan semakin berat apabila ada pihak-pihak yang mencoba melakukan intervensi kepada sekolah. Terlebih jika intervensi itu datang dari pejabat atau oknum yang memiliki jabatan dan pengaruh.
“Lebih pusing lagi kalau ada yang berseragam atau memiliki jabatan kemudian menelepon hanya dengan satu kalimat, ‘Tolong dibantu ya, Bu’. Itu beratnya luar biasa,” tegasnya.
Andra menegaskan, para guru dan kepala sekolah merupakan pihak yang paling memahami pentingnya menjaga kualitas pendidikan. Karena itu, mereka harus diberi ruang untuk bekerja secara profesional tanpa tekanan dari pihak mana pun.
“Kalau kita berpindah-pindah tugas, mereka dari awal berkarier sampai sekarang tetap menjadi pendidik. Mereka memiliki tanggung jawab moral yang besar terhadap dunia pendidikan,” katanya.
Karena itu, Andra mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk para pejabat dan aparatur pemerintah, untuk bersama-sama melindungi kepala sekolah dari segala bentuk intervensi yang dapat mencederai proses SPMB.
Selain menyoroti pelaksanaan SPMB di sekolah negeri, Andra juga memberikan perhatian terhadap perkembangan sekolah swasta di Banten. Ia menilai Program Sekolah Swasta Gratis telah memberikan dampak positif terhadap pemerataan akses pendidikan.
Menurutnya, sebelum program tersebut berjalan, banyak sekolah swasta mengalami kesulitan mendapatkan peserta didik karena mayoritas calon siswa memilih sekolah negeri.
Namun kini, melalui kerja sama antara pemerintah dan sekolah swasta, distribusi siswa dinilai lebih merata. Bahkan, sejumlah sekolah swasta mengalami lonjakan jumlah pendaftar.
“Sekarang pemerintah memberikan fasilitas bekerja sama sehingga kuota muridnya terpenuhi. Bahkan ada sekolah swasta yang ruangannya tidak muat lagi karena banyak yang mendaftar sehingga harus dialihkan ke sekolah lain,” pungkasnya. (Aldo)
LEBAK, – Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Dr.H. Ali Hanafiah, menegaskan panen…
LEBAK, –DPD KNPI Kabupaten Lebak menggelar panen raya jagung di Desa Padasuka, Kecamatan Maja, Kabupaten…
SERANG, –Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten akan memperluas Program Sekolah Gratis (PSG) ke jenjang Madrasah Aliyah…
PANDEGLANG, –Kejaksaan Negeri (Kejari) Pandeglang melakukan pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur…
SERANG, –Sebanyak 100 ribu siswa di Provinsi Banten telah mendaftar pada tahap Pra Sistem Penerimaan…
JAKARTA, –Dewan Pengurus Pusat (DPP) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) mengapresiasi langkah cepat Kejaksaan Agung…