SERANG, – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten menilai tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan budaya belum sepenuhnya tercermin dalam Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK). Disdikbud menyoroti metode pendataan yang digunakan pada indikator ekspresi budaya.
Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Provinsi Banten, Rohaendi, mengatakan secara umum capaian IPK Banten telah melampaui target pemerintah daerah. Namun, jika dibandingkan dengan capaian nasional, indikator ekspresi budaya masih berada di bawah target.
“Setelah saya pelajari, secara keseluruhan Indeks Pembangunan Kebudayaan Banten sudah melampaui target visi misi pemerintah daerah. Tetapi dibandingkan nasional, indikator ekspresi budaya masih di bawah,” kata Rohaendi kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).
Rohaendi yang baru genap 100 hari menjabat sebagai Kabid Kebudayaan menjelaskan, indikator ekspresi budaya dihitung dari tingkat keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas budaya. Menurutnya, metode pendataan tersebut perlu dievaluasi karena belum menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Ia mencontohkan tradisi Seren Taun di wilayah Banten Selatan yang rutin digelar dan mampu melibatkan ribuan warga. Begitu pula tradisi Muludan di sejumlah daerah yang berlangsung selama beberapa hari dengan partisipasi masyarakat yang tinggi.
“Kalau melihat kondisi di lapangan, masyarakat Banten sangat antusias mengikuti kegiatan budaya. Anak-anak juga ikut terlibat dalam berbagai tradisi. Jadi menurut saya, capaian ekspresi budaya sebenarnya sudah tinggi,” ujarnya.
Menurut Rohaendi, banyak kegiatan budaya masyarakat belum terdokumentasi secara optimal sehingga tidak seluruhnya masuk dalam proses pendataan. Karena itu, Dindikbud Banten berencana menyampaikan masukan kepada Badan Pusat Statistik (BPS) terkait mekanisme pengumpulan data tersebut.
Ia juga berharap media massa dapat lebih banyak memberitakan aktivitas budaya di Banten agar berbagai kegiatan masyarakat terdokumentasi dengan baik.
“Kami membutuhkan dukungan media. Kalau kegiatan budaya tidak terdokumentasi dan tidak diketahui secara luas, tentu akan berpengaruh terhadap data yang digunakan dalam penilaian,” katanya.
Rohaendi menyebut Banten memiliki kekayaan budaya yang tersebar di tiga kawasan, yakni Banten Selatan dengan tradisi adatnya, Banten Utara yang identik dengan budaya Kesultanan Banten, serta Banten Timur atau Tangerang Raya yang memiliki keragaman budaya, termasuk Festival Cisadane dan tradisi masyarakat Tionghoa.
Ia pun mengimbau para budayawan dan penyelenggara kegiatan budaya untuk lebih aktif melibatkan media dalam setiap kegiatan agar dokumentasi budaya Banten semakin kuat dan tercatat dalam berbagai indikator pembangunan.
Selain itu, Rohaendi kembali mendorong peningkatan sarana bagi pelaku seni dan budaya. Salah satunya dengan memperbaiki dan membuka akses dari Jalan Syekh al-Bantani akses menuju Plaza Aspirasi agar lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Harapan kami ada akses langsung ke Plaza Aspirasi yang bisa menjadi wahana ekpresi Kesenian, sehingga masyarakat lebih mudah memanfaatkannya sebagai ruang berekspresi dan menggelar berbagai kegiatan budaya,” pungkasnya. (Red)
SERANG, –Gubernur Banten Andra Soni melepas dua anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2026…
TANGERANG, –Gubernur Banten Andra Soni menegaskan Program Sekolah Gratis yang dijalankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten…
PANDEGLANG, –Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang meminta para pejabat yang baru menjalani serah terima jabatan…
TANGERANG, –Warga menyambut positif rekonstruksi Jalan Teluknaga-Dadap yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Perbaikan jalan…
TANGERANG, –Gubernur Banten Andra Soni meninjau pembangunan 12 ruang kelas baru (RKB) di SMAN 30…
Bantenonline.com - Hotel Tentrem Jakarta merayakan hari jadinya yang kedua melalui rangkaian program Dwiwarsa Tentrem:…